Back to Kompasiana
Artikel

Blog Kemerdekaan

Sumarno

Mencari dan mencari terus.

Kado Tujuhbelasan dari Mas Inu

OPINI | 12 August 2010 | 02:02 Dibaca: 62   Komentar: 3   0

Saya bukan bermaksud menyebut Mas Inu (Wisnu Nugrosho) sebagai pahlawan, karena ada aturannya. Tapi, menjelang tujuhbelasan (istilah orang kampung) atau bahasa formalnya (yang sering terpampang di gapura di mulut gang-gang kecil) peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 65, Mas Inu mendadak sontak jadi popular, jadi selebritis. Diminta foto, diminta tanda tangan, berarti punya fans.Dan bagi saya lebih dari sekadar selebritis.

Popularitas Mas Inu karena menulis buku yang bersentuhan dengan istana, tempat dimana pada setiap tanggal 17 Agustus diselenggerakan upacara peringatan hari kemerdekaan RI. Walau yang ditulis menurutnya tidak penting, tetapi menurut saya dan juga Bung Efendi Gazali yang tidak penting itu justru penting.

Ketika ada informasi peluncuran buku tersebut saya sempat meragukannya. Melihat cover-nya tidak menarik, membaca judulnya saya langsung berprasangka negatif, wah paling seperti buku ‘0,0 Kilometer’ yang ditulis Andi Malarangeng yang hanya penuh puja-puji, pikir saya. Namun, tekad saya untuk datang ke acara peluncuran di Grand Indonesia sudah bulat, nama saya tercantum dalam daftar di Kompasiana. Sebulat komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari tekad yang bulat, begitu datang saya langsung membeli buku itu. Ditambah pembahasan dalam diskusi, ternyata buku itu melihat dari sisi lain tentang istana dan penghuninya, Pak Beye dan keluarganya. Buku yang menurut Bung Efendi Gazali membongkar pencitraan. Kita semua tahu predikat pencitraan sangat melekat pada diri Pak Beye.

Soal pencitraan sendiri ada yang berpendpat sah-sah saja kalau demi kepentingan bangsa dan Negara. Mendatangkan faedah bagi rakyat. Misal, mencitrakan agar di mata dunia Indoensia terkesan sebagai Negara besar yang maju, disiplin, penegakan hukum berjalan, para pemimpinnya jujur, adil, tegas. Sehingga bangsa lain tidak sembarangan, akibatnya rakyat jadi aman. Lain halnya kalau pencitraan hanya untuk kepentingan pribadi dan kekuasaannya. Justru di mata rakyat adalah sebuah kamuflase.

Memang, walaupun istana dibuka untuk umum setiap akhir pekan pasti tetap dalam aturan protokoler yang ketat. Masyarakat yang berkunjung ke istana pun tidak mungkin akan menemui atau jeli terhadap seperti yang ada dalam buku Mas Inu.

Maka, Mas Inu yang masih muda, yang oleh Tina disebut brondong, layak populer. Lagi, menurut Mas Inu sendiri di Kompasiana, sejumlah 7.000 eksemplar bukunya cetakan pertama sudah habis. Cetakan kedua 10.000 eksemplar sudah beredar, dan 20.000 eksemplar cetakan ketiga dalam poses, total 37.000 eksemplar. Kalau ludes semua jumlah yang fantastis. Lagi-lagi menurut Mas Inu bukan soal labanya. Mungkin, bagaimana efeknya bagi masyarakat.

Terbitnya buku tersebut pada momentum yang tepat, menjelang peringatan tujuhbelasan. Di balik peringatan tujuhbelasan yang biasanya di kampung-kampung ada keceriaan, kegembiraan dengan berbagai lomba. Karena bertepatan dengan bulan puasa, terpaksa tidak dulu bersorak-sorai pada lomba balap karung, pukul kendi, panjat pinang, dan lomba-lomba lain yang biasa dilombakan saat tujuhbelasan. Gantinya, baca kukunya Mas Inu!

Begitu pula di istana yang biasanya upacara megah, orang-orang pilihan seluruh Nusantara kumpul di Jakarta, dari siswa teladan, guru teladan, kepala sekolah teladan, petani teladan, lurah teladan, dan teladan-teladan lainnya berbangga di puncak acara tujuhbelasan mendapat apresiasi dan berbagai penghargaan. Para pejabat dan tamu undangan, mulai acara detik-detik proklamasi, sampai acara ramah tamah yang penuh basa-basi, mungkin diselingi kedip-kedip mata isarat lobi-lobi berbagai kepentingan.

Tetapi, tujuhbelasan kali ini sepertinya harus sejenak merenung. Tanpa merendahkan para pejabat dan para teladan, apakah para pejabat yang bekerja dengan uang rakyat dan para teladan yang muncul tiap tahun cukup membuat kesejahteraan rakyat meningkat? Jangan-jangan hanya terjebak formalitas dan seremonial.

Paling tidak begitulah buku Mas Inu mengingatkan kita, karena dalam buku diantaranya ditulis sosok Pak Mayar, petani miskin dari Kampung Cikeas Udik yang pernah ditemui Pak Beye tahun 2004. Namun, sampai akhir hayatnya kehidupan Pak Mayar tetap menderita. Mungkin banyak Pak Mayar-Pak Mayar yang lain di seluruh Indonesia Raya yang bernasib sama.

Semoga dengan buku Pak Beye dan Istananya karya Mas Inu, tujuhbelasan tahun ini lebih bermakna. Disamping, bagi umat Muslim karena ditempa dengan puasa. Mudah-mudahan kegelisahan yang dirasakan Mas Inu, kegelisahan tentang negeri ini, juga dirasakan kita semua. Seperti Mas Inu sering katakan “Saya hanya berbagi.”

Walau pekik kemerdekaan tak sekeras biasanya, membahana membelah angkasa, makna tujuhbelasan kali ini justru lebih mendalam. Tentu dengan terbitnya buku Pak Beye dan Istananya. Mungkin ini hanya kegelisahan saya yang ditularkan Mas Inu. Buat Mas Inu salam kemerdekaan. Merdeka bicara, merdeka menulis tentunya.[*]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 5 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 11 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: