Back to Kompasiana
Artikel

Blog Kemerdekaan

Osakurniawanilham

Sebagai seorang musafir di dunia ini, menulis adalah pilihan saya untuk mewariskan ide, pemikiran, pengalaman selengkapnya

13 Agustus 1945

REP | 13 August 2010 | 22:41 Dibaca: 902   Komentar: 2   0

13 Agustus 1945, pada hari itu Bung Karno, Bung Hatta, dr Radjiman dan ternyata dr Soeharto selaku dokter pribadi Bung Karno juga diajak serta ke Dalath, akhirnya diterbangkan dari Saigon menuju Singapura. Menjelang senja pesawat mereka mendarat di lapangan terbang Singapura. Dari lapangan terbang, mereka dibawa ke Hotel Sea View yang terletak di pantai Singapura. Tapi hanya sejenak mereka beristirahat karena tidak lama kemudian datanglah undangan makan malam dari Panglima Tentara Jepang di Singapura.

http://yesterday.sg/page/143/?ACT=17&mbr=2343)

Sea View Hotel Singapura (sumber: http://yesterday.sg/page/143/?ACT=17&mbr=2343)

Dalam keletihan, rombongan Bung Karno akhirnya memenuhi undangan tersebut. Tampaknya Letkol Nomura lah yang menjadi perantara antara mereka dengan panglima di Singapura. Suasana makan malam begitu meriah. Mereka saling tertawa-tawa dengan gembira. Tapi Bung Hatta merasa bahwa pesta makan malam tersebut terlalu dibuat-buat. Bung Karno juga merasakan hal sama. Dia merasa bahwa kegembiraan orang-orang Jepang ini hanyalah sandiwara belaka. Makanya Bung Karno merasa bahwa karena orang-orang Jepang itu sudah berlaku sebagai badut, maka Bung Karno juga harus mengimbangi mereka untuk memerankan sebagai badut dalam jamuan makan malam itu. Pendapat yang bernada sarkasme, tapi Bung Karno dan Bung Hatta punya alasan untuk membuat penilaian seperti itu.

 
Penilaian itu didapat saat mereka menyelesaikan pertemuan dengan Jenderal Terauchi di Dalath tanggal 12 Agustus 1945. Selesai pertemuan itu, mereka diterbangkan kembali ke Saigon dan kelihatannya kembali diinapkan di Istana Saigon.

 
Sore harinya, Bung Karno mandi sementara Bung Hatta menikmati tehnya. Letkol Nomura yang sudah mendampingi rombongan sejak dari Jakarta menghampiri Bung Hatta dan turut menikmati teh pada sore itu. Bung Hatta merasakan raut muka Letkol Nomura berubah tampak kebingungan tapi dia cepat menguasai diri sehingga mengobrol dengan Bung Hatta seperti biasanya. Dalam obrolannya itu Letkol Nomura menceritakan kabar yang baru saja ia terima. Ternyata Rusia sudah mendeklarasikan perang terhadap Jepang bahkan saat itu pula Rusia sudah menyerang Manchuria. Tetapi buru-buru Nomura menambahkan bahwa pertahanan Jepang di Manchuria sangat kuat sehingga dia yakin bahwa pasukan Jepang di sana masih mampu mengimbangi serbuan tentara Rusia.

 
Bung Karno selesai mandi dan kemudian ikut nimbrung dalam obrolan sore itu. Letkol Nomura menceritakan pula kabar itu kepada Bung Karno, setelah itu mohon pamit meninggalkan mereka berdua.

 
Bung Hatta mengutarakan isi hatinya kepada Bung Karno. Dia menangkap ada nada gusar dalam pemicaraan dan wajah Nomura. Tampaknya Nomura sendiri tidak yakin bahwa Jepang bisa bertahan menghadapi gempuran dari segala arah itu. Dari selatan, Sekutu sudah mulai mendarat dan menguasai beberapa pulau. Tokyo tinggal menunggu waktu. Sementara dari utara, Rusia sudah di depan mata menyerang mereka. Bung Hatta merasa bahwa situasi akan berubah dengan cepat sejak sekarang karena takluknya Jepang tinggal menunggu waktu saja.

 
Dalam pembicaraan itu Bung Karno menyetujui pendapat Bung Hatta dan dia bertekad untuk segera mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bahkan dia berencana untuk segera memobilisasi seluruh anggota PPKI dalam rangka mempercepat selesainya UUD dan terbentuknya pemerintahan nasional sampai ke daerah-daerah.

 
Karena pembicaraan sore hari itulah Bung Karno dan Bung Hatta mulai menemukan keyakinan akan kondisi darurat yang dialami Jepang sekarang. Makanya dalam hati mereka muncullah penilaian akan adanya sandiwara di antara orang-orang Jepang saat jamuan makan malam di Singapura itu. Tampak luar mereka tetap menunjukkan optimisme dan kegembiraan padahal dalam hati mereka muncul kekhawatiran akan kekalahan yang sudah di depan mata.

 
Benarkah demikian ? Sang sejarah mulai mencatatnya.

 
(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 14 Agustus 2010, 65 tahun sesudah kisah nyata di atas terjadi)

 

Bahan Pustaka:
1. Her Suganda, Rengasdengklok: Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945, Penerbit buku KOMPAS, Jakarta, Agustus 2009.
2. A.M. Hanafi, Menteng 31: Membangun Jembatan Dua Angkatan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1997.
3. Taufik Abdullah, BPUPKI: Sebuah Episode di Panggung Sejarah, Suplemen KOMPAS Menuju Milenium III, Kompas Sabtu, 1 Januari 2000.
4. Aiko Kurasawa, Bung Karno di Bawah Bendera Jepang, Edisi khusus KOMPAS, 100 tahun Bung Karno, Kompas Jumat, 1 Juni 2001.
5. http://rubijanto.wordpress.com/2009/11/29/bangsaku-bergerak/

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Antara Mega dan Kwik (Siapa yang Memperdayai …

Mister Hadi | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: