Back to Kompasiana
Artikel

Blog Kemerdekaan

Rina Tri Lestari

Kurang 1/4 www.rinatrilestari.wordpress.com

Agustusan

OPINI | 13 August 2010 | 01:25 Dibaca: 56   Komentar: 0   0

Bulan Agustus sudah datang dan seperti tahun-tahun sebelumnya negara kita akan merayakan hari kemerdekaannya. Tahun ini negara kita tercinta memasuki umurnya yang ke-65. Untuk ukuran manusia sudah cukup tua tapi untuk ukuran negara bisa dibilang masih muda. Sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya HUT RI tahun ini bertepatan dengan datangnya bulan suci Ramadhan yang dirayakan sebagian besar penduduk negara ini. Tidak mengherankan jika kemudian beberapa perayaan khas Agustusan sudah mulai terlihat geliatnya. Seperti yang sudah dilakukan warga Gubeng Jaya, kecamatan Gubeng, Surabaya.

Rombongan yang bukan hanya terdiri dari anak-anak kecil tapi juga orang dewasa plus beberapa tetua tampak antusias memecah jalanan di gang kecil Gubeng yang panas. Ada yang berdandan ala pejuang, dokter, memakai kostum Upin dan Ipin, bapak-bapak yang bergaya ibu hamil bahkan ada yang berdandan seperti Kuntilanak. Kalau dipikir mungkin tidak ada hubungannya Kuntilanak dengan kemerdekaan tapi jika tujuannya adalah untuk menghibur warga sekaligus menakuti anak kecil, bisa dibilang mereka berhasil. Keponakan salah seorang teman menjerit ketakutan begitu rombongan dari salah satu RT yang berdandan ala Kuntilanak lewat.

Jadi teringat masa beberapa tahun lalu ketika masih berstatus pelajar. Saat seperti ini adalah saat yang dinanti dimana semua siswa diwajibkan mengikuti karnaval. Setiap siswa harus menggenakan kostum tertentu sesuai dengan pembagian oleh guru masing-masing. Dua belas tahun menjadi siswa aku hanya ikut tiga kali, dua kali resmi sebagai siswa, sekali karena ikut bapak. Perawakanku yang kecil membuatku mudah sekali mendapat ijin untuk tidak mengikuti karnaval yang mengambil jarak tempuh yang lumayan jauh ini. Kalaupun ikut aku hanya kebagian jadi pelajar yang kostumnya adalah seragam sekolah sehari-hari, tidak menarik. Yang menarik adalah ketika aku ikut rombongan bapak, dari RW dimana kami tinggal. Aku jadi pejuang yang dicoreti wajahnya dengan arang dan masuk ke dalam gunung buatan yang selalu “meletus,” menyalakan petasan yang cukup besar dan mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga.

Beberapa lomba juga sudah digelar di instansi-instansi pemerintah seperti lomba futsal, bola voli dan sebagainya. Hal ini dilakukan karena ketika bulan puasa datang tentu akan sedikit sulit menggelar lomba-lomba itu. Meski tentu tidak bijak jika menjadikan puasa sebagai alasan untuk tidak bisa beraktivitas seperti biasa atau melakukan kegiatan yang membutuhkan stamina tapi bisa dimaklumi terutama di kota seperti Surabaya dimana matahari tidak hanya bersinar tapi membakar. Aku pribadi berani bilang menahan lapar, tidak makan, tidak sesulit menahan haus ketika berpuasa di Surabaya. Hawa yang hampir selalu panas adalah godaan yang tidak mudah.

Pada akhirnya sampai masuk bulan ramadhan tak banyak acara yang digelar, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak masalah tentunya karena merayakan kemerdekaan tidak selalu atau tidak harus bahkan bisa dibilang tidak perlu dengan perayaaan atau lomba-lomba tapi bagaimana kita sebagai warga negara mampu berbuat yang terbaik untuk mengisi kemerdekaan ini. Merdeka bukan hanya terlepas dari penjajahan negara lain secara fisik karena saat ini pun kita bisa melihat kalau kita masih “terjajah” dengan produk-produk bangsa lain misalnya yang sebenarnya bisa kita produksi sendiri dan tak kalah kualitasnya. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang punya sikap, tegas untuk melakukan yang terbaik buat tanah air tercinta. Dan sebagai warga yang merdeka bukan hanya hak tapi kewajiban juga bagi kita untuk terus berjuang demi mewujudkan Indonesia yang benar-benar merdeka. Selamat berjuang!

***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

“Tak Sempurna Hanya Tanpa …

Jarjis Fadri | | 31 July 2014 | 08:41

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 7 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 7 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 12 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 12 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: