Back to Kompasiana
Artikel

Blog Kemerdekaan

Ardi Putra

i'm here, i'm alive, i'm disabled..

Saya Cacat, Bolehkah Saya Ikut Upacara?

OPINI | 18 August 2010 | 03:01 Dibaca: 73   Komentar: 1   0

Masa kecil telah saya lewatkan 23 tahun lalu, dan masa sekolah sudah saya lewatkan 7 tahun lalu. Saya memang bukan lagi anak kecil yang seperti dahulu kala boleh menangis disaat saya sedih dan marah disaat saya merasa terhina. Ada satu hal kenangan yang mungkin begitu berharga dalam hidup saya. Masa-masa dimana saya akan mengenangnya dalam-dalam bila menjelang hari kemerderkaan Indonesia, sehingga di setiap saya mendengar lagu kemerdekaan maka saat itu saya merasa bahagia untuk pertama kalinya boleh mengikuti upacara pertama kali dalam hidup saya.

Sejak kecil, saya mengalami banyak cobaan. Ibu melahirkan saya sempurna hingga umur saya 3 tahun dan sebuah tragedi malprakter membuat saya tidak bisa berjalan dan harus duduk di kursi roda sepanjang masa kecil saya. Walau saya cacat, ibu tidak ingin saya berkecil hati. Ia tidak menyekolahkan saya di tempat khusus orang cacat tapi saya sekolah yang normal. Walau saya tidak bisa berjalan, saya masih bisa menulis dengan tangan kiri saya karena tangan kanan saya juga sedikit bengkok sehingga sulit untuk menulis.

Sejak kecil bila upacara sekolah di hari senin, saya mendapatkan hak istemewa untuk tidak mengikuti upacara. Saya menunggu di dalam kelas, seorang diri dan memandang beberapa teman berbaris rapi untuk menghormati bendera merah putih. Kadang saya ingin sekali merasakan bagaimana rasanya mengikuti upacara tapi karena tidak ingin merepotkan dan tidak ingin upacara menjadi berantakan karena ada seorang anak cacat dengan kursi roda ditengah-tengah lapangan, saya tau diri untuk hanya ada di dalam ruangan. Pernah terpikir untuk memaksa ikut upacara tapi ibu langsung marah dan melarang saya untuk ikut.

Ketika lagu Indonesia berkumandang, saya menatap bendera mulai meninggi. Teman-teman memberikan hormat diatas kepalanya, dengan sedikit memaksa saya mencoba melakukan gerakan itu tapi gagal, tangan saya tidak mampu menekuk hingga diatas kepala. Saya menyadari, sampai kapanpun saya tidak akan bisa memberikan hormat kepada bendera kebanggan tanah airku, karena tangan kiri tidak mungkin boleh dinaikan.

Saya bersedih hati untuk tidak mengikuti upacara, apalagi disaat hari kemerderkaan rasanya merah putih tidak dapat saya simpan di hati. 11 tahun saya sekolah, tidak pernah saya diizinkan ikut, hingga akhirnya saya berpikir keras memaksa untuk ikut upacara. Saat itu saya sudah duduk di kelas 2 smp kalau tidak sekarang saya mengikuti upacara maka saya tidak akan pernah merasakan bagaimana mengikuti upacara bendera seumur hidup saya. Ketika itu menjelang 17 agustus dan bendera merah putih sudah menghiasi sekolah saya. Saya bangun pagi-pagi dan ibu sudah siap untuk mengantarkan saya ke sekolah bersama supir saya.

Saya sudah memakai topi sekolah. Ibu melihat saya dengan bingung.

“ Untuk apa kamu pakai topi?” tanya ibu saya.

“ Saya mau ikut upacara hari ini”

Ibu melihat saya dengan bingung. Mengeleng-gelengkan kepala berpikir saya sedang menghayal.

“ Banyak teman-teman kamu yang berharap tidak ikut upacara karena panas, kamu malah ingin upacara. Tidak lihat apa banyak teman-teman kamu dihukum karena kabur saat disuruh upacara?”

“ Itukan mereka, saya mau ikut. Ibu tolong bilang ke kepala sekolah.”

Ibu tidak mengindahkan apa yang saya inginkan, hingga tiba di sekolah, saya meminta supir saya untuk mengantarkan saya ke tengah lapangan. Ibu sibuk dengan ibu-ibu teman sekolah yang juga sedang mengantar anak mereka sehingga ia tidak sadar saya telah menghilang bersama supir saya. Supir saya bingung kenapa saya minta diletakkan ditengah lapangan, saya meminta ia pergi dari saya. Ia bingung tapi melakukan semua kehendak saya.

www.indonesiapusaka.info

www.indonesiapusaka.info

Untuk pertama kalinya saya berada di lapangan dan beberapa teman sedang melakukan latihan upacara bendera. Mereka melihat saya dan tentu saja kenal saya, karena satu-satunya anak berkursi roda di sekolah itu hanya saya. Seorang pembina upacara mendekati saya,

“ Sedang apa kamu disini?”

“ Pak saya ingin ikut upacara boleh?” tanya saya dan dia melihat saya bingung.

“ Kenapa kamu ingin ikut upacara?”

“ Saya sudah 11 tahun sekolah disini dari tk hingga smp, sebentar lagi saya sudah pindah sekolah, kalau saya tidak ikut upacara sekarang, saya akan menyesal seumur hidup saya pak. Tidak akan ada kenangan di hati saya tentang sekolah ini, apalagi saat ini 17 Agustus..”

Pembina upacara melihat saya sambil melempar senyum, ia pergi lalu kembali bersama kepala sekolah. Dia berkata sangat terkesan dengan ketulusan saya, ibu saya datang ketika tau saya di lapangan dari supir saya, ia mulai berpikir saya merepotkan sekolah lagi.

“ Maaf, kepala sekolah, anak saya dari pagi uda ngambek gini..”

“ Ibu, aku pengen ikut upacara..” teriak saya.

“ Kamu ini, bikin repot aja, ayo masuk ke kelas..” kata ibu sambil berusaha menarik kursi roda saya da saya menahan laju kursi saya.

Kepala sekolah kemudian menahan ibu.

“ Ibu saya dan pembina upacara sudah sepakat untuk membolehkan anak ibu upacara, tidak perlu merasa sungkan, anak ibu tidak akan merepotkan siapa pun, ketulusan dan keinginan anak ini harus menjadi contoh bagi-anak-anak lain, “

Ibu melihat kepala sekolah dengan tertunduk.

“ Tapi anak saya cacat, dia bahkan tidak bisa memberikan hormat. Saya tidak ingin dia jadi ejekan anak-anak lain dan jalannya upacara..” kata ibu saya.

“ Tidak bu, tenang. Memberikan hormat kepada negera dan bendera itu didasari dari hati tidak harus dari bukti secara fisik.. jadi ibu biarkan anak ibu ikut upacara.”

“ kalau bapak sudah memberikan izin, saya hanya bisa berharap anak saya tidak merepotkan..”

Ibu akhirnya menyerah, ia tetap cemas dan menunggui saya di luar lapangan bendera. Ketika semua orang mulai memasuki lapangan dan upacara sudah dimulai. Semua orang melihat saya dengan aneh, mungkin mereka baru pertama kali melihat saya ikut dalam upacara ini,. Saya mencoba memberikan senyum dan mengikuti upacara dari setiap detik hingga detik berlanjut,

Hari ini kepala sekolah memberikan kata sambutan di hari ulang tahun bangsa Indonesia. Satu hal kalimat yang membuat saya begitu tersentuh. Ia berkata tentang semangat bangsa ini mencapai kemerderkaan. Menghargai negara ini dan keinginan untuk mengingat perjuangan bangsa. Pidatonya membuat saya begitu bergeming tentang rasa nasionalisme di hati.

Saat lagu indonesia raya berkumandang dan anggota paskisbra siap menaikan bendera, saya begitu kebingungan memberikan hormat kepala sekolah mendekati saya.

‘ Gunakan hati kamu untuk menghormati bangsamu, tidak perlu dengan tanganmu, “

“ Boleh saya pakai tangan kiri saya..”

“ tentu saja..”

Akhirnya saya mengangkat tangan kiri saya untuk memberikan hormat, saya begitu begetar dalam hati, tak saya sangka. Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya bisa memberikan hormat kepada bendera bangsa saya. Ibu menangis di luar lapangan, sejak saat itu ia tidak akan melarang saya untuk ikut upacara walau ia tau saya sangat sulit untuk melepaskan saya melakukan apa yang saya inginkan hari ini.

Kini, saya mengalami keadaan mujizat dari Tuhan, saya tidak perlu lagi menggunakan kursi roda untuk berjalan tapi saya bisa berjalan secara normal walau terlihat aneh dengan kaki bengkok yang merangkak perlahan untuk berjalan. Tapi saya tidak perlu lagi membuat repot orang lain untuk menolong saya berjalan, ketika saya duduk di kelas 2 sma, saya selalu mengikuti upacara karena disaat itulah kaki saya mulai bisa berjalan tanpa kursi roda.

Saya memang terlahir di tanah yang indah dan subur, walau saya tidak berjalan diatas tanah indah bumi pertiwi indonesia ini selama 15 tahun lamanya, saya bersyukur akhirnya saya bisa berjalan dan merasakan hormat dan nikmatnya menjadi bangsa Indonesia. Terima kasih pejuang bangsa, terima kasih Indonesia yang membuat saya merdeka secara batin untuk memberikan kesempatan panjang dalam hidup saya memberikan hormat kepada bendera merah putihku.

Seperti kata ibu saya.

“Makna merah putih dalam warna bendera negara kita adalah merah untuk darahmu dan putih untuk hatimu, siapapun kamu dan bagaimanapun keadaan kamu, bersyukurlahuntuk bisa hidup di tanah pertiwi ini dalam keadaan apapun.”

Di garhayu indonesiaku ke 65.

Semoga ada kemerderkaan lain bagi saya ataupun anak-anak cacat lain untuk membuktikan kami tidak pernah berhenti memberikan hormat kepadamu walau kami memiliki kekurangan secara fisik tapi tidak hati ini untuk memujamu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 2 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 7 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 8 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: