Anak Panah itu Terlepas

Kamis, 29 Juli 2010 | 14:15
Oleh: Purnawan Kristanto - 6 Komentar - 48 Kali Dibaca - 9 Vote

Weni, adikku, tertular virus Rubella! Kabar ini menyengat batinku. Sendi-sendiku terasa lumpuh. Dengan sisa-sisa tenaga kugerakkan tetikus mengais serpihan informasi di jagat internet. Data-data yang kudapat justru semakin kelabu.

Sudah cukup lama adikku kedua ini mendambakan anak lagi. Sasa, anak pertama mereka, kini berusia 10 tahun. Weni dan Wawan, suaminya (kebetulan kami punya nama panggilan sama), ingin menambah semarak keluarga mereka dengan anggota keluarga yang baru.

Sembilan bulan yang lalu, terbitlah kabar menggembirakan. Weni akhirnya mengandung kembali. Akan tetapi bunga pengharapan yang mulai mekar itu mulai terusik oleh virus Rubella. Bersama-sama dengan virus Toksoplasma, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II), rombongan virus ini populer dengan singkatan TORCH. Mereka bagaikan obor (torch) yang dengan bengis membakar bakal-bakal bunga sukacita para orangtua. Kerusakan yang ditimbulkannya cukup mengenaskan. Selain risiko bayi tidak berkembang secara normal, virus ini juga mengancam nyawa sang ibu.

Dokter menyarankan supaya mereka menggugurkan kandungan Weni, tapi mereka menolak. “Sudah lama saya berdoa meminta anak kepada Tuhan,” kata Weni, “Sekarang Tuhan telah memberikan anak. Apa pun kondisinya, saya akan menerimanya dengan ikhlas.”

Meski ikhlas, tapi tidak pasrah. Mereka mengusahakan pengobatan sebaik-baiknya. Dan juga dengan doa, tentunya. Trimester pertama kami lalui dengan penuh ketegangan. Pada trimester kedua, bunga sukacita itu mulai kuncup. Dokter tidak menemukan adanya kelainan.

Memasuki trimester ketiga, mereka memutuskan memeriksakan diri dengan USG empat dimensi. Teknologi terbaru ini memungkinkan mereka melihat citra bayi dengan lebih jelas. Biayanya memang sangat mahal, namun mereka ingin memastikan bahwa bayi mereka dalam kondisi. Hasil pemeriksaan sangat memuaskan. Semua tanda-tanda vital berfungsi normal, anggota tubuh lengkap dan yang lebih menggembirakan jenis kelaminnya laki-laki! Karena anak pertama sudah perempuan, tentu mereka mendambakan anak laki-laki. Bunga sukacita itu mulai merekah cerah.

Hari Perkiraan Lahir [HPL] pun diberikan oleh dokter, yaitu 17 Juni 2009. Maka kami bersiap merayakannya. Ibu di Gunungkidul sudah membuat penganan-penganan kecil untuk dibawa ke Solo, jika menjenguk cucunya yang kelima nanti.

***

Minggu pagi, 14 Juni, telepon di rumahku berdering. “Mas, Weni masuk rumah sakit,” kata Indah, adik pertamaku, dengan terbata-bata, “Kata dokter, bayinya sudah tidak ada detak jantungnya.” Astaga! Kecemasan yang telah kukubur beberapa bulan ini, tiba-tiba bangkit lagi.

Setengah tujuh pagi aku putar gas sepeda motor dalam-dalam ke Solo Baru. Jalanan masih lengang. Udara masih dingin. Kurang dari setengah jam, aku sudah sampai di R.S. dr. Oen dan segera menuju kamar bersalin.

Di ruang tunggu aku melihat Sasa yang duduk sendirian. “Papamu ada di mana?” tanyaku kepada Sasa.

“Ada di dalam,” jawab Sasa sambil menunjuk pintu yang tertutup.

Aku ragu-ragu untuk masuk. Jangan-jangan nanti malah dimarahi oleh para perawatnya. Aku kirim SMS pada Wawan.

Dia keluar dengan wajah yang pucat dan kelelahan.

“Masuk saja, mas,” kata Wawan.

Aku masuk ke ruang persalinan. Sedangkan Wawan mengajak Sasa mencari sarapan.

Weni terbaring di ruang persalinan. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Aku hanya berdiam diri. Tak tahu harus berkata apa. Kuusap-usap saja rambutnya yang kusut. Mataku terasa panas. Pandanganku mulai kabur. Tapi kutahan tangis itu.

Akhirnya Weni memecah keheningan. Dia berkisah, hari sebelumnya, mereka baru saja memeriksakan kandungan ke dokter. Dokter menyatakan bahwa kondisi kandungan baik. Bahkan dokter sempat menunjukkan detak jantung bayi pada pemeriksaan USG.

“Kalau melihat kondisi ini, ibu Weni bisa melahirkan dengan cara yang normal,” kata dokter yang ditirukan oleh Weni. Melahirkan dengan normal, memang itu yang dikehendaki oleh Weni. Dia ingin menunaikan tugas mulia seorang ibu.

Malamnya, Weni merasakan bayi bergerak-gerak. Menurut Weni, bayi ini memang sangat aktif. Sekitar pukul 4 pagi, Weni mengalami pendarahan. Wawan segera membawanya ke rumah sakit. Dokter tidak menemukan tanda-tanda detak jantung pada bayi. Ketika dilakukan pemeriksaan USG, ternyata tali pusat sudah putus di dalam kandungan. Bunga yang sedang mekar itu, tiba-tiba direnggut dari tangkainya. Bukan oleh virus torch, melainkan plasenta yang membelit tubuh bayi.

Dokter menyuntikkan obat untuk memacu persalinan. Pukul 11.30, Wawan keluar dari ruang persalinan. “Sudah lahir” katanya singkat dengan mata berkaca-kaca. Dia menunjukkan foto di kamera digitalnya. Bayi laki-laki berambut hitam ikal, dengan panjang 50 cm dan berat 2,9 kg itu terbujur tenang. Tangis pun pecah di ruang tunggu.

***

Sebelum dibawa ke Gunungkidul untuk dimakamkan, Weni memeluk anaknya dalam-dalam. “Namailah dia Samuel Arrow Kurniawan”, kata Weni terisak-isak. “Kurniawan” adalah nama bapaknya. “Samuel” karena mengingat Hana yang mempersembahkan anaknya pada Tuhan. Sedangkan “Arrow” mengutip Mazmur 127:4. Anak itu seumpama anak panah di tangan para ksatria. Dia melesat dengan cepat, tapi kali ini tidak akan kembali.

Setiap manusia adalah anak panah dalam tabung ksatria. Masing-masing sedang menunggu giliran untuk dilepaskan menuju kekekalan

~Purnawan Kristanto~

Sebarkan Tulisan
Posting Komentar Anda

Guest User


Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Pendaftaran

Ingin mengikuti lomba? Anda harus memiliki account Kompasiana terlebih dahulu.