Back to Kompasiana
Artikel

Puasa Dulu Baru Lebaran

Mattula Ada

Just call me "ADA" http://aboutagama.blogspot.com

Hikmah Puasa yang Luar Biasa!!!

OPINI | 07 August 2010 | 23:47 Dibaca: 387   Komentar: 35   4

Alhamdulilah, bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba! Bulan penuh rahmat dan berkat yang sekaligus memberi pertanda bagi umat Islam untuk menunaikan salah satu kewajibannya, yaitu berpuasa! Akan tetapi, rupanya masih banyak diantara kita yang belum mengerti hakikat dari puasa! Mereka seakan-akan bertanya: “Mengapa kita mesti berpuasa?. Bukankah itu hanya merupakan bentuk penyiksaan diri dalam menahan lapar dan dahaga?.” Ini terbukti bila kita berada di angkutan umum, maka sering kita lihat baik supir maupun penumpangnya banyak yang seenaknya saja merokok. Begitu pula di lapak-lapak terbuka, sering kita jumpai baik laki-laki maupun perempuan dewasa (yang masih mengaku dirinya Muslim) yang makan di sana tanpa ada rasa malu dan canggung sedikitpun. Keadaan tsb tentunya sungguh sangat memprihatinkan!

Sebenarnya puasa bukan cuma sekedar menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan segala hawa nafsu yang sifatnya tercela alias terlarang menurut aqidah Islam, misalnya menonton film cabul, suka ngegosipin dan mencela orang, suka marah-marah, dll. Ini bertujuan untuk membina sikap dan mental kita menjadi orang terpuji, sehingga kita dapat digolongkan sebagai orang yang bertaqwa di sisi Allah.

Dalam Qur’an Surah Al-Baqarah [2] ayat 183 dikatakan :

Artinya :

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah 183)

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya dalam tulisan saya berjudul “Mengapa Umat Islam Dilarang Makan Babi?” (http://agama.kompasiana.com/2010/08/06/mengapa-umat-islam-dilarang-makan-babi/) bahwa segala hal yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT, kesemuanya itu justru untuk memberikan manfaat bagi umatNya juga. Disamping sebagai ibadah yang mengantarkan pelakunya meraih derajat taqwa, puasa juga dibuktikan, bahkan oleh non muslim juga, memiliki efek pengobatan bagi penyakit yang menyerang tubuh manusia. Sudah cukup banyak orang yang berhenti dari kebiasaan merokok hanya karena berpuasa. Ustadz Dr. Ahmad Qadhi di dalam Hai’ah Ijaz ‘Ilmi mengatakan: “Di zaman dulu, manfaat puasa dianggap hanya terbatas pada aspek-aspek spiritual semata, akan tetapi ilmu pengetahuan modern berhasil menyingkap bukti baru mengenai manfaat-manfaat fisik dan psikis puasa bagi siapa yang konsisten menjalankan ajaran-ajaran Islam. Saat ini telah dibuktikan berdasarkan hasil riset kimiawi dan laboratorium bahwa puasa mengandung faedah-faedah kesehatan terhadap sistem kekebalan, sistem sirkulasi darah dan jantung, sistem pencernaan, sistem reproduksi, dan sistem urinary (berkaitan dengan air seni); yang kesemuanya pada akhirnya meningkatkan kemampuan fungsi sel dan jaringan.

Ketika seseorang berpuasa, maka akan terjadi dua peristiwa penting dalam tubuh.

Pertama, rekonstruksi sel-sel tubuh. Dr. Abdul Jawwad Ash-Shawi mengatakan bahwa zat asam amino membentuk infrastruktur sel-sel tubuh. Pada saat berpuasa, asam-asam yang baru terbentuk dari makanan ini berkumpul dengan asam-asam hasil proses pencernaan. Pada saat puasa, pembentukan sel-sel dilakukan kembali setelah proses-proses pencernaan, kemudian didistribusikan sesuai dengan kebutuhan setiap sel-sel tubuh. Dengan demikian, terbentuklah gugus-gugus baru untuk sel-sel, yang merenovasi strukturnya dan meningkatkan kemampuan fungsionalnya, sehingga menghasilkan kesehatan, pertumbuhan, dan kenyamanan bagi tubuh manusia.

Puasa Islam merupakan satu-satunya sistem gizi yang paling ideal untuk mereparasi kemampuan fungsional hati, dimana puasa memberinya banyak zat asam lemak dan asam amino dasar dalam rentang waktu antara buka puasa dan makan sahur, sehingga terbentuklah gugus-gugus protein, lemak, fosfat, kolesterol, dan zat-zat lain untuk pembentukan sel-sel baru dan membersihkan sel-sel hati dari lemak yang berkumpul didalamnya setelah makan selama siang hari berpuasa. Dengan demikian, organ hati sangat sukar mengalami kerusakan, karena pengerasan hati (cirrhosis hepatis) atau gangguan pada fungsi-fungsinya disebabkan tidak terbentuknya zat pengangkut lemak darinya, yaitu lemak yang berkepadatan sangat rendah, yang pembentukannya bisa dihambat dengan lapar atau banyak mengkonsumsi makanan yang kaya lemak.

Berdasarkan ini semua kita bisa mengambil kesimpulan bahwa puasa Islam memiliki peran efektif untuk memelihara aktivitas dan fungsi-fungsi sel hati, yang kemudian sangat berpengaruh dalam percepatan pembaruan sel-sel hati dan semua sel-sel tubuh, satu hal yang tidak bisa ditimbulkan oleh puasa medis atau sekedar memperbanyak mengkonsumsi makanan yang kaya lemak.

Kedua, pembersihan tubuh dari racun. Pada saat berpuasa, lemak-lemak yang disimpan dalam tubuh dalam jumlah besar dipindahkan ke hati, sehingga dioksidasi dan dimanfaatkan oleh hati. Dari proses ini dikeluarkanlah racun-racun yang meleleh didalamnya, kandungan racunnya dimusnahkan, kemudian dibersihkan bersama kotoran-kotoran tubuh.

Pada saat puasa, aktivitas sel-sel ini berada di puncak kemampuannya untuk melaksanakan fungsi-fungsinya, maka ia memakan bakteri yang sebelumnya telah diserang oleh antibodi secara serentak.

Dr. Mack Fadon, salah seorang pakar pengobatan internasional yang memiliki perhatian pada penelitian tentang puasa dan pengaruhnya, mengatakan : “Setiap orang perlu berpuasa sekalipun ia tidak sakit, karena racun-racun makanan dan obat-obatan berkumpul di dalam tubuh, sehingga memberatkannya dan menjadikannya seperti orang sakit, sehingga badannya menjadi kurang fit. Jika seseorang berpuasa, maka ia terbebas dari beban-beban racun-racun ini dan merasakan dirinya lebih fit dan kuat, yang mungkin tidak dirasakan sebelumnya.”

Dari pemaparan-pemaparan diatas, maka jelaslah bahwa selain untuk mencapai derajat taqwa, puasa juga sangat bermanfaat bagi kesehatan umat manusia.

Lalu, bagaimana dengan orang yang berhalangan karena suatu hal, sehingga dirinya tidak memungkinkan untuk melaksanakan ibadah puasa?

Dalam kasus misalnya kita sedang sakit atau sedang menempuh perjalanan jauh, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa, tetapi diwajibkan meng-qadha’ (menggantikan) di waktu lain sebanyak puasa yang ditinggalkan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 185 tentang hal ini :

Artinya :

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah 185)

Lantas, bagaimana dengan orang yang sedang mengandung atau menyusui, orang lanjut usia, orang yang menderita penyakit menahun, serta pekerja berat; dimana mereka ini merasa amat sangat berat untuk menjalankan ibadah puasa karena berbagai alasan?

Dibolehkan tidak berpuasa bagi laki-laki atau perempuan yang sudah sangat lanjut usianya, orang sakit menahun yang tidak ada lagi harapan sembuh, dan para pekerja berat yang tidak mempunyai sumber penghasilan selain yang menjadi pekerjaan mereka sehari-hari, seperti para kuli bangunan atau pengangkut barang, tukang becak yang sering mengayuh becaknya, buruh kasar di pabrik, dsb.

Mereka ini dibolehkan tidak berpuasa Ramadhan dan tidak wajib menggantinya di hari-hari lain, sepanjang puasa amat memberatkan mereka terus-menerus sepanjang tahun. Sebagai gantinya, mereka diwajibkan membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin, atau memberinya kira-kira 600 gram beras untuk setiap hari puasa yang mereka tinggalkan.

Dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 184 dikatakan :

Artinya :

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Ayat ini ditujukan juga kepada laki-laki maupun perempuan yang amat lanjut usianya dan tidak mampu berpuasa. Mereka harus memberi makan seorang miskin sebagai pengganti setiap hari puasa yang mereka tinggalkan. Begitu pula perempuan yang sedang hamil atau menyusui, apabila merasa khawatir (yakni terhadap anak mereka), boleh meninggalkan puasa dan (sebagai gantinya) memberi makan seorang miskin atau mengganti puasanya pada hari-hari lain setelah ia tidak hamil atau tidak menyusui lagi.

Sudah barang tentu kewajiban membayar fidyah ini bagi mereka yang tergolong mampu. Adapun mereka yang untuk membiayai hidupnya dan keluarganya saja sudah mengalami kesulitan, tidak ada kewajiban atas mereka membayar fidyah, sampai mereka mampu.

Walau demikian, sekali lagi perlu ditekankan disini pernyataan Allah dalam ayat diatas: Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Marhaban Yaa Ramadhan

Kami Siap Menyambut Kedatanganmu

Sumber:

~ Al-Qur’an dan Terjemahnya, 2002, Lembaga Penyelenggara Penterjemah Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama, Jakarta.

~ http://aboutagama.blogspot.com

~ M. Quraish Shihab, 1999, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan, Bandung.

~ Muhammad Albani, 2007, Berobat Dengan Sedekah, Insan Kamil, Sukoharjo.

~ Muhammad Bagir Al-Habsyi, 2005, Fiqih Praktis: Menurut Al-Quran, As-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama, Mizan, Bandung.

Tags: hikmah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 11 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 15 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 19 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: