Back to Kompasiana
Artikel

Puasa Dulu Baru Lebaran

Dzulfikar

Suka kopi darat, kopdarnya ya sama kamu, iya kamuuu about.me/dzulfikar

Satu Lomba Kemerdekaan Hilang di Bulan Ramadhan

HL | 07 August 2010 | 04:03 Dibaca: 1338   Komentar: 13   1

flickr.com Kania Verawaty Wahab

flickr.com Kania Verawaty Wahab

Ada banyak hal yang menarik dan unik dalam rangka menyambut kemerdekaan tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu diadakan lomba-lomba yang beraneka ragam. Ada satu lomba yang paling sederhana namun tak dapat dipisahkan yaitu lomba makan kerupuk. Namun di bulan Ramadhan tahun ini lomba ciri khas 17 Agustusan itu kemungkinan akan ditiadakan karena bertepatan dengan bulan Ramadhan dimana semua umat Islam berpuasa. Tetapi bisa saja lomba tersebut di tunda setelah melaksanakan solat sunnah Tarawih di malam hari. Kayaknya akan lebih menarik jika menyelenggarakan lomba-lomba kemerdekaan di malam hari.

Lomba makan kerupuk sudah menjadi tradisi tujuhbelasan di bulan Agustus. Makan kerupuk adalah sebuah lomba yang sangat sederhana khas rakyat desa. Menurut Wikipedia Lomba Makan Kerupuk adalah salah satu lomba tradisional yang populer pada hari kemerdekaan Indonesia. Sudah lumrah dan lomba yang paling populer di seluruh nusantara. Bagi saya pencetus lomba makan kerupuk adalah seseorang yang jenius. Karena hanya dengan kerupuk bisa mempersatukan warga bahkan menjadi ciri khas negara dalam rangka merayakan kemerdekaan. Tidak seperti negara lain yang mengeluarkan dana yang besar untuk merayakan kemerdekaannya misalnya dengan menyulut kembang api yang menghabiskan puluhan atau mungkin ratusan dolar. Rakyat Indonesia hanya cukup merayakan dengan lomba makan kerupuk saja sudah terasa istimewa.

Masih menurut Wikipedia juga cara bermain lomba makan kerupuk adalah panitia perlombaan menyiapkan kerupuk untuk sejumlah peserta, kemudian kerupuk itu digantung biasanya dengan tali rapia secara berjejer. Para peserta berlomba untuk memakan kerupuk masing-masing, dan pemenangnya adalah peserta yang paling cepat memakan habis kerupuknya. Tantangan dari lomba ini adalah, peserta tidak diperbolehkan menggunakan tangan - dalam memakan kerupuk, peserta hanya diperbolehkan menggunakan mulutnya.

Terkadang banyak sekali penonton yang berbuat iseng dengan mengganggu peserta lomba dengan cara menggoyang-goyangkan tali rapia tersebut sehingga para peserta lomba biasanya kesulitan untuk menghabiskan kerupuknya. Tidak sedikit peserta yang stress hingga mencabut krupuk tersebut dari talinya dan tidak dilepaskan untuk dimakan hingga habis. Yang paling lucu adalah ekspresi anak-anak yang mengikutinya. Pastinya akan menjadi objek foto yang menarik.

Harga kerupuk di warung biasanya sekitar 500 rupiah saja. Cemilan khas warga desa yang terbiasa makan alakadarnya menjadi istimewa dengan adanya kerupuk. Kerupuk yang digunakan untuk lomba biasanya kerupuk warung atau kerupuk aci yang terbuat dari tepung tapioka berbentuk bulat. Biasanya berwarna putih atau kuning muda rasanya gurih. Saya masih ingat sekali ketika masih SD dulu tahun 1990-an dengan uang 100 rupiah bisa mendapatkan empat buah kerupuk sama harganya dengan satu butir permen. Bahkan saya pernah berdagang kerupuk yang di taburi nasi kemudian dilumuri kecap manis sungguh nikmat rasanya, meskipun dagangan saya selalu habis dimakan saya sendiri..hehehe.. Terkadang sesekali saya selalu mencobanya kembali mengenang masa-masa kecil dengan memakan kerupuk yang di taburi nasi kemudian di lumuri kecap manis, yah rasanya tidak jauh beda dengan makan roti yang dilapisi keju lembaran kemudian di lumuri susu kental manis diatasnya. Sungguh nikmat sekali.

Bagi para peserta lomba nampaknya harus gigit jari di bulan Ramadhan kali ini. Tetapi hal tersebut tentunya tidak akan mengurangi semangat untuk beribadah puasa. Masih ada lomba lainnya yang dapat diikuti untuk merayakan kemerdekaan. Bahkan ada beberapa sekolah-sekolah yang sudah menyelenggarakan lomba makan kerupuk beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan.

Selamat berlomba dan selamat berpuasa.

Salam Kerupuk,,,,

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Merawat Identitas Melalui Karya Seni …

Khus Indra | | 23 September 2014 | 11:34

Menemukan Pembelajaran dari Kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | | 23 September 2014 | 03:26

Ke Mana dan di Mana Mantan Penghuni …

Opa Jappy | | 23 September 2014 | 08:58

Pak Jokowi, Jangan Ambil Kepala Daerah Kami …

Felix | | 23 September 2014 | 10:00

[Studio Attack] Mau Lihat Geisha Latihan …

Kompas Video | | 23 September 2014 | 11:00


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 3 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 5 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 7 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawu, Episode Mendaki Melarung Rindu …

Endah Lestariati | 7 jam lalu

Kalah atau Menang Itu Wajar, Tapi Kalau …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Rumah Sakit Harus Ikuti Clinical Pathway …

Info Jkn-bpjs Keseh... | 8 jam lalu

Termostat …

Martua Raja Pane | 8 jam lalu

Maaf, Kemampuan Menerjemah Bahasa Inggris …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: