Back to Kompasiana
Artikel

Puasa Dulu Baru Lebaran

Beny Akumo

Seorang in-house Lawyer: itu saja, tidak lebih

Belajar Puasa - Belajar Islam

REP | 11 August 2010 | 04:08 Dibaca: 140   Komentar: 17   2

Anak saya yang tertua, umur 7,5 tahun kelas dua SD, perempuan, kepingin sekali bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan ini secara penuh, keinginannya untuk sahur bersama-sama dengan saya dan ditemani Bunda-nya (Bunda nya lagi nggak bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan - lagi kedatangan “harimau” bulanan) tinggi sekali dan semangatnya itu yang saya acungi jempol “jangan lupa, jangan meninggalkan shalat lima waktu!” tambah anak saya ini dengan wajah polos sok memberikan wejangan pada saya … wejangan? ya, bagi saya belajar apapun mengenai berbagai ilmu bisa saya ambil dari lingkungan sekitar, juga termasuk dari kepolosan anak saya itu - sebagaimana pepatah “jangan lihat siapa yang memberi, tapi lihatlah apa yang di beri” …

Tahun lalu Rana (nama anak saya ini) hanya bisa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dalam hitungan jam dan untuk beberapa hari saja, juga ikut menikmati hidangan sahur hanya di awal-awal puasa saja. Saat membangunkan sahur masih susah, dan saya meminta pada istri saya untuk jangan dipaksakan dibangunkan, cukup ditanya saja jika Rana mau sahur ayuk bangun, kita sahur sama-sama … hari pertama sukses bangun dan bisa sahur bersama, tapi hari-hari selanjutnya Rana tidak mau bangun untuk melaksanakan sahur, yaaa nggak apa, namanya belajar. Tapi bangun pagi sebelum berangkat sekolah dia “sahur” dulu “nanti puasanya sampe jam 12 ya Bunda, minum aja nggak usah makan, abis itu diterusin puasanya sampe magrib ..” ya di iyakan oleh Bunda nya “kalo nggak kuat jangan dipaksain ya Kak ..” imbuh istri saya .. wah ternyata pulang sekolah bener dia hanya minum air putih saja (tanpa es - saya dan istri tidak membiasakan anak-anak kami minum air dingin dari kulkas), selanjutnya dia bermain bersama adiknya, jam-jam kritis puasa atau jam 3 sore mulailah dia meminta Mbak di rumah menyiapkan makan buat dia (saya juga dengan istri sudah memberitahukan Mbak staff ahli (rumah tangga) di rumah supaya jika Rana minta dibuatkan / disiapkan makan segera disiapkan, karena Rana masih belajar puasa - tanpa sepengetahuan Rana) “nanti abis buka ini Rana puasa lagi kok Mbak, sampe magrib” kata Rana … yang di iyakan oleh si Mbak staf ahli (rumah tangga) ini, jam 04 sore, Rana minum “Rana puasa lagi nih nanti sampe magrib ya Mbak …“, jam 05 sore dia ngemil makanan dari lemari persediaan “kok makan kak? khan bentar lagi magrib ..” si Mbak nanya sambil senyum-senyum “iya Mbak, besok deh Rana puasa nya pol ya, janji deh …” hehe … itu tahun lalu.

Tahun ini, sahur tadi Rana semangat menghabiskan makan sahurnya, dan mudah-mudahan puasanya bisa lancar dijalani - semalam sehabis kami (saya dan Rana) tarawih sambil membaca do’a niat puasa di bulan Ramadhan sepertinya Rana bakalan kuat menjalankan puasa nya, walaupun kami (saya dan istri) tidak memaksakan itu.

Dulu, waktu saya masih kecil (tepatnya kelas 3 SD) saya baru memulai belajar melaksanakan ibadah puasa - dan tanpa paksaan, namun dibawah tekanan. Maksudnya? Saya terlahir dari orangtua yang berbeda agama: Ibu saya muslim, sedangkan Bapak saya Kristen Protestan. Bapak sangat keras, Bapak “memaksa” kami semua (anak-anaknya) untuk memeluk agama Kristen, tidak diperbolehkan seorangpun yang mengikuti agama Ibu. Setiap minggu kami diajak untuk melaksanakan ibadah ke gereja, sekolah minggu, ikut merayakan hari Natal dengan mengikuti kegiatan-kegiatannya - seperti ikut berperan dalam drama kelahiran Yesus, ikut dalam paduan suara anak-anak, dan lain sebagainya yang mana maksudnya supaya kami semua - anak-anak Bapak, dekat dengan agama kristen yang dianut Bapak, dan serta merta memeluk Agama Kristen tersebut (dari saat kelahiran kami sudah di baptis di gereja - semua anak-anak Bapak mendapatkan nama Baptis, termasuk nama saya ini: Benyamin (Beny)) … dengan gaya yang otoritarian Bapak memaksa dan akan sangat marah jika kami tidak mengikuti perintah Bapak untuk menjalankan peribadatan, se kecil apapun. Apa saja yang dilakukan Bapak saya jika sedang marah? Anda semua tahu ikat pinggang kopel??? kayu bakar??? tinju orang dewasa??? tamparan / tempelengan??? Jangan khawatir: itu semua pernah mampir ke badan saya atau kakak saya (laki-laki: yang songong itu - cerita “Kasti”), sekali? Ooo ya nggaklah, kalau sudah memukul sekali tidak cukup, berkali-kali itu … mungkin kalau dulu sudah ada KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) yang di ketuai oleh Pak Merdeka Sirait atau Kak Seto Mulyadi, saya dan kakak saya sudah menjadi Head Line ya hehehe … dendam? TIDAK SAMA SEKALI, sampai dengan saat ini saya tidak pernah menyesal mempunyai Bapak yang galak, gahar, malahan itu sebagai pembelajaran saya kepada anak-anak saya: jangan meniru Bapak.

Kembali lagi ke masa kecil dulu: ya, Bapak waktu itu mungkin mempunyai motto (copy paste dari pemimpinan Negara kita pada waktu itu) bahwa dengan sifat yang otoritarian maka segala sesuatunya berada dalam kendalinya, dan tidak akan berpaling dari apa yang sudah dipaksa ajarkan kepada kami - anak-anaknya. Namun Bapak tidak mengetahui, bahwa di sekitar rumah ada lingkungan sosial, dimana sebagai makhluk sosial tentu kami - anak-anak kecil waktu itu sering berkumpul, bermain bersama, termasuk saling mengamati apa yang berlaku dengan mereka dan/atau mereka memperhatikan apa yang berlaku pada kami - keluarga Akumo.

Saya (dan saudara saya yang lain), sering memperhatikan bagaimana anak-anak di lingkungan tempat tinggal kami - komplek perumahan milik PT Perkebunan adalah mayoritas muslim, dimana setiap hari mulai menjelang magrib mereka semua berbondong-bondong mendatangi masjid untuk belajar mengaji, belajar tentang agama Islam, belajar tentang apa itu Islam, dan hal itu pada akhirnya “mengundang” kami anak-anak keluarga Akumo untuk mencuri dengar, mencuri tempat duduk di sekitar mereka belajar islam, mencuri pelajaran apa itu Islam, dengan berbagai macam cerita yang ada, dan tentunya mencuri dengar apa itu puasa di bulan Ramadhan.

Mulailah kami bertanya pada Ibu tentang segala hal mengenai Islam, cara Ibu memberitahu kami pun dengan diam-diam, tanpa sepengetahuan Bapak, termasuk saat kami mulai belajar menjalankan ibadah Puasa di bulan Ramadhan, terutama saat sahur. Diaaammmm, tidak boleh bersuara, kami dibangunkan untuk sahur, tidak boleh gaduh yang bisa membangunkan Bapak (apa jadinya jika Bapak terbangun dan melihat kami sedang sahur? who knows). Jika pun saat nya makan siang, Bapak hanya ditemani Ibu (Ibu hanya menemani tapi tidak makan), kami anak-anaknya tidak di rumah, bermain di lingkungan komplek perumahan, dan saya ingat dari kecil awal dulu belajar puasa: kami paling sedikit batal puasa 1 atau hanya 2 hari saja … dan pencapaian itu atas kemauan dan keinginan kami sendiri.

Suatu saat, siang yang terik, sehabis bermain bersama teman-teman penjahat kecil saya kehausan, jam menunjukkan pukul 03 sore, diam-diam saya mengendap ke dapur, melihat ada makanan apa yang bisa di sruput sebagai obat penghilang lapar juga haus. Setelah situasi dirasa aman, tidak ada seorang pun berada di sekitar dapur, saya mulai membuka beberapa panci-panci satu persatu: ada kolak pisang yang baru saja di buat, hangat dan menggiurkan, celingak-celinguk lagi, tidak ada orang … maka saya ambil sendok besar / centong untuk mulai menyeruput kolak manis sedap penggugah rasa itu, sruupppp sruuppp nyammmm .. tapi seperti ada suara kaki yang mendekat, dengan pelan-pelan saya tutup kembali panci berisi kolak itu dan segera berlari bersembunyi di belakang lemari dapur … deg deg an, mudah-mudahan nggak ketauan, nanti kalau sudah aman segera keluar dan kabur … langkah kaki itu semakin dekat, saya mengintip sedikit siapa itu yang ternyata adalah kakak saya, dan persis dengan apa yang saya lakukan, diapun menyeruput kolak manis buatan Ibu sebagai penghilang haus saat puasa di jam-jam “menyiksa”. Di lain waktu, dengan dalih mandi kali (idnam ilak) dengan para penjahat kecil, maka rasa haus karena puasa pun hilang, kenapa? saya mengikuti dan memahami serta menerapkan apa yang di sebutkan dengan pepatah terkenal “sambil menyelam minum air“.

Saya dengan Istri (kami) mementingkan pendidikan agama terlebih dahulu bagi anak-anak kami dengan memasukkan mereka ke sekolah yang cara mendidiknya dengan cara muslim, dan dengan mutu yang tentu nya baik,  baik secara kependidikan umumnya maupun pendidikan keagamaannya. Kami percaya dengan dasar ilmu keagamaan yang kuat dan menjadi landasan anak-anak kami, maka insya Allah anak-anak kami akan baik-baik saja menjalani hidupnya masing-masing kelak. Amien.

Ayah, Mas Ranu juga di bangunin sahur ya … ” itu kata anak kami yang nomor dua, inysa Allah ya nak … tapi ayah sama bunda nggak maksa ….

koleksi-pribadi

koleksi-pribadi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriahnya Festival Seni Budaya Klasik di …

Riana Dewie | | 19 December 2014 | 08:54

Keresahan Nelayan dan Pelaku Usaha Perikanan …

Ibay Benz Eduard | | 19 December 2014 | 08:11

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Keping Inspirasi di Balik Tragedi Pakistan …

Pical Gadi | | 19 December 2014 | 07:11

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 3 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 10 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 10 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: