Back to Kompasiana
Artikel

Puasa Dulu Baru Lebaran

Mamiqika

di pertengahan usia 30 an, hidupku semakin berwarna. Semoga juga bisa mewarnai hidup orang lain selengkapnya

Alas Tuwa Punya Cerita

REP | 23 August 2010 | 03:46 Dibaca: 426   Komentar: 14   1

Acara tetap keluarga kecil kami  di bulan Ramadhan setiap tahun adalah ngabuburit di Alas Tuwa,sebuah stasiun kereta api kecil yang terletak di sebelah Timur kota Semarang,tepatnya di desa Bangetayu. Seperti namanya yang mengandung kata tuwa ( tua ),stasiun ini memang sudah ’sepuh’,beroperasi sejak tahun 1860 an,merupakan jalur utama perlintasan kereta Surabaya dan Solo, baik kereta penumpang maupun kereta barang. Yang unik dari stasiun Alas Tuwa ini,karena letaknya yang tidak di tengah kota,melainkan di pinggiran Semarang dengan pemandangan rumah rumah penduduk dan hutan di kanan kirinya. Untuk para railfans (pecinta kereta api) stasiun Alas Tuwo ini juga menarik karena dari 4 jalur lintasan, ada yang masih berbantal kayu,selain yang sudah berbantal besi dan beton. Pada hari hari biasa,terutama sore hari,stasiun ini ramai dikunjungi penduduk setempat  terutama para remaja dan ibu ibu yang mengasuh anak anaknya. Di bulan puasa seperti sekarang ini, Alas Tuwo jadi salah satu tempat favorit untuk ngabuburit. Pedagang tiban marak membuka lapak. Kelompok kelompok keluarga terlihat dengan aktifitas masing masing,kebanyakan memang menanti datangnya si ular besi melintas. Wajah wajah lucu anak anak yang terbengong bengong memandang kereta masuk bisa mengundang senyum. Tidak hanya stasiun nya sendiri yang jadi spot, tetapi juga flyover Bangetayu yang berada sekitar 1,5 kilometer dari Alas Tuwo,penuh dengan orang orang yang menghentikan kendaraan mereka di trotoar flyover,lalu menggelar tikar atau koran sekedarnya supaya dapat menikmati keluasan pemandangan Alas Tuwa dari atas berikut kereta yang melintas di bawahnya. Hmm,untuk acara yang satu ini saya sangat tidak rekomen,karena faktor keselamatan diabaikan. Biasanya kendaraan dari arah bawah akan melaju dengan kecepatan tinggi menuju ketinggian flyover. Anak anak kecil bisa saja lengah dari pengawasan dan turun dari trotoar. Hwaduh!

Sore semakin merayap hingga waktu menjelang berbuka puasa tiba. Kami meninggalkan stasiun Alas Tuwa untuk berikutnya mampir di sentra buah Siwalan,yang menjadi primadona daerah Bangetayu ini. Siwalan menurut saya perpaduan antara kelapa dan kolang kaling. Kulit luarnya seperti kelapa dengan warna gelap ,dalamnya bulat mirip kolang kaling raksasa ,rasanya tawar kenyil kenyil. Berbuka dengan siwalan dituangi sirup dan es batu..hmmm..lengkap sudah petualangan ngabuburit sore itu.

Bangetayu Flyover

Stasiun Alas Tuwa

dari ketinggian

menyongsong kereta datang

siwalan

sang primadona bangetayu

Tags: cerita unik

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Apakah Pedofili Patut Dihukum? …

Suzy Yusna Dewi | | 19 April 2014 | 09:33

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Perlukah Aturan dalam Rumah Tangga? …

Cahyadi Takariawan | | 19 April 2014 | 09:02

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 6 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 14 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 14 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 17 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: