Artikel

Puasa Dulu Baru Lebaran

Restu Ashari Putra

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

seorang penulis yang sedang belajar menyikapi hidup dan kehidupan

Ramadan, Kemerdekaan, dan Aku


REP | 07 September 2010 | 17:56 Dibaca: 40   Komentar: 0   Nihil

Aku melewati hari menjelang perayaan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 agustus di kampung halaman di kota Depok. Aku tidak merasakan ada nada gegap gempita apa-apa. Bahkan hingga saat ini sehari sebelum hari kemerdekaan, aku malah masih asyik malas-malasan menghabiskan novel yang aku beli kemarin di sebuah toko buku terdekat.

Lain rasanya saat kemerdekaan seperti tahun-tahun lalu. Mungkin karena pengaruh bulan puasa juga kali ya. Masak iya bakal ada lomba makan kerupuk tengah hari bolong. Atau lari-lari memasukan pensil yang diikat tali di pinggang saat panas matahari menyengat. Rasanya tak mungkin warga mau diajak acara-acara yang kelihatannya buang-buang energi, buang-buang keringat seperti itu saat bulan puasa, kecuali hanya untuk kerja cari uang.

Aku rasa semua warga berhak untuk melakukan perayaan semodel itu atau pun tidak sama sekali. Semuanya merdeka menentukan pilihan masing-masing sesuai kesepakatan sesame warga. Toh memang tak ada aturannya kok.

Tapi walau bagaimanapun aku masih penasaran. Setidaknya ada sedikit atau satu acara lah demi merayakan hari besar bangsa ini. Atau aku yang jarang keluar rumah mungkin ya gara-gara demi menuntaskan novel yang lumayan tebal ini mumpung masih nyantai liburan di rumah. Di sini teman-teman yang sepermainan dan sepantaranku juga sudah entah pada ke mana. Sebagian ada yang sudah bekerja jauh ke luar kota, sudah menikah, ada juga yang masih kuliah ke luar kota seperti aku ini. Jadi kadang ke luar rumah pun selain untuk urusan kepentingan pribadi cari buku, jalan ke mall, beli rokok ke warung (kalo habis maghrib), aku malas ke luar.

Yang tampak sudah meriah di deretan komplek rumahku adalah bendera merah putih yang terikat di tiang masing-masing setiap rumah. Hal ini dua hari sebelum 17-an juga sudah kelihatan. Walau tak semeriah ahun-tahun lalu yang lengkap dengan bendera kecil plastic panjang yang di bentangkan di sepanjang jalan perumahan. Asumsiku masih tetap karena bulan puasa. Warga jadi malas melakukannya. Dan satu lagi asumsi tambahan. Generasi muda yang dulu seangkatan denganku sudah tidak ada. Kalau ada penerus pun masih seumuran kelas satu SD.

Namun akhirnya karena dirundung penasaran yang tak menentu ini, aku mulai mencari tahu apa penyebabnya gerangan 17 agustus tahun ini amat sepi nian dari sorak sorai warga. Setelah investigasi sana sini (termasuk tukang warung tempat biasa beli kerupuk sama tali rapia) akhirnya benar juga dugaanku. Ramadanlah penyebab utamanya. Tapi tentu aku tidak mau seakan-akan memposisikan Ramadan sebagai objek kesalahan yang karenanya ulang tahun republik ini jadi tak meriah.

Ramadan adalah mitra. Ia adalah spirit kemerdekaan. Sebab pada hakikatnya hanya orang-orang yang merdekalah yang mampu menjalankan ibadah puasa dengan sebenar-benarnya tanpa ada beban apa pun. Sebab seruan ibadah saum ini seperti yang difirmankan Allah dalam Al-Baqarah:183 adalah untuk orang-orang yang beriman.

Nah, orang beriman adalah mereka yang membebaskan diri (merdeka) mereka dari penghambaan makhluk kepada penghambaan Tuhan Sang Pemilik Alam semesta, Allah swt. Min ibadatil ibad ila ibadatil rob. Ia melepaskan seluruh penghambaannya pada Allah swt semata. Ia tidak terikat apa pun. Apa pun yang ia kerjakan adalah semata Allah swt. Cinta tanah air pun karena mencintai Allah swt semata. Karena ajaran agama telah mengajarkannya. Jiwanya bebas. Merdeka. Dan ia telah menghembuskan spirit kemerdekaan dalam jiwanya. Sebab penjajahan di atas dunia ini harus dihapuskan. Di mana pun. Terhadap siapa pun. Termasuk jiwanya.

Oleh karenanya bukan masalah meriah tak meriah, namun sejauh mana sebagai hamba dan sebagai warga Negara yang benar-benar menghayati pesan kemerdekaan, menjadikan Ramadan ini sarana meresapi esensi kemerdekaan. Toh, percuma juga kalau setiap tahun selalu saja 17 Agustus ini selalu dilewati dengan perayaan namun tak mampu member bekas apa pun pada jiwa setiap warga Negara.

Padahal seperti yang kita sudah ketahui, saat Soekarno memproklamasikan kemerdekaan RI adalah di mana rakyat Indonesia sedang menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan. Betapa agungnya Ramadan. Betapa mulianya kemerdekaan.

Lalu aku kembali menyuntuki lembar-lembar novel yang masih sisa setengah halaman. Sambil merenungi apakah aku benar-benar telah memahami makna kemerdekaan sebagaimana aku menjalankan puasa di bulan Ramadan.(*)

Depok, 16-19 Agustus 2010

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: