Back to Kompasiana
Artikel

Puasa Dulu Baru Lebaran

Abdul Adzim

Belajar menulis dan berbagi informasi

Filsafat Hari Ketupat (Kupatan)

OPINI | 17 September 2010 | 08:44 Dibaca: 700   Komentar: 0   0

Hari raya idul fitri juga dikenal dengan’’ Hari Rata Ketupat’’. Definisi ini sangat sederhana, sebab ketupat itu banyak ditemukan pada hari raya idul fitri. Bahkan, gambar ketupat ini menjadi symbol hari raya idul fitri. Parsel, kartu lebaran, hingga perusahaan-persuahaan menghias kantornya dengan gambar masjid dan ketupat. Ini lakukan sebagai bentuk penghormatan atas datangnya hari raya idul fitri (ketupat). Akan tetapi, jarang sekali orang mengetahui filsafat ketupat tersebut, karena memang tidak ada literatur yang secara sepesifik membahasa masalah ketupat.

Di berbagai daerah, hari raya ketupat (kupatan), biasanya dilakukan pada hari ke-8 setelah idul fitri. Tradisi ini sangat menarik, walaupun saat ini mulai hilang atau pudar. Akan tetapi, dibeberapada daerah tertentu, seperti Jember, ternyata masih berlaku. Bahkan, tradis (kupatan) ini rutin dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya, setiap rumah menyediakan ketupat, lontong, lepet, serta lengkap dengan opor ayam dan dibawa ke Masjid atau Musolla terdekat. Setelah sang Kyai berdo’a, maka menu yang terdiri dari ketupat, lontong, lepet, dan opor Ayam dimakan bersama-sama. Uniknya, menu itu dibagi secara acak. Begitulah tradisi kupatan yang berlangsung dari tahun-ketahun hingga sekarang.

Setelah ditelusuri, ternyata hari raya ketupat (kupatan) berasal dari bahasa Arab (كافة ) yang artinya (sempurna/ menyeluruh). Istilah ini diambil, karena orang islam yang telah berpuasa sebulan penuh telah merayakanya Idul Fitri. Selang satu hari, sebagian orang islam melanjutkan puasa sunnah Enam Syawwal (Sitta Syawwal). Pada hari ke-delapan, mereka yang berpuasa Enam Syawal berarti telah melaksanakan puasa secara sempurna, yaitu 30 hari puasa ramadhan, dan 6 hari puasa Syawwal. Menurut sebuah keterangan Nabi Saw. Orang yang melaksanakan puasa ramadhan, kemudian dilanjutkan Enam Syawwal, maka seolah-olah orang tersebut telah melaksanakan puasa setahun penuh. Berarti, orang tersebut telah memperoleh pahala puasa 365 hari.

Jadi, sebenarnya filsafat hari raya ketupat (kupatan) itu sebagai bentuk perayaan (kemenangan) bagi mereka yang telah mampu melawan hawa nafsunya pada bulan Ramadhan yang ditambah dengan 6 Syawwal. Sedangkan, mereka yang melaksanakan puasa 6 Syawal, tetapi tidak tertib (urut) tetap diperbolehkan. Sedangkan, mereka yang tidak melaksanakan puasa juga tidak apa-apa. Sebab, hukum puasa 6 Syawwal itu sunnah. Artinya, yang melaksanakan itu memperoleh pahala, sedangkan yang tidak mengikutinya juga tidak apa-apa.

Bagi yang telah melaksanakan puasa 6 Syawwal, semoga mereka benar-benar melaksanakan puasa secara sempurna (كافة ). Perayaan hari raya kupatan itu untuk kalian, sedang yang belum sempurna, semoga bisa melaksanakan, walaupun harus meng-kredit setiap senin dan kamis. Semoga semua memperoleh balasan dari tuhan, sesuai dengan amal perbuatannya. Wallau a’lam

Tags: hikmah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa Bahaya Makan Beras Plastik bagi Tubuh? …

Wahyu Triasmara | | 22 May 2015 | 18:51

Etika Presiden Jokowi ketika Naik-turun …

Ashwin Pulungan | | 22 May 2015 | 16:19

Kompasiana Seminar Nasional: Harapan serta …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 15:58

10 Jam Wisata Kuliner Kecil di Kota Bandung …

Khristian Dominico | | 22 May 2015 | 21:02

Kirim Review Blogshop bersama JNE Anda dan …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 15:13


TRENDING ARTICLES

Babak Baru Kisruh PSSI vs Menpora: La Nyalla …

Agus Oloan | 6 jam lalu

Inilah Ujian Akhir Pemerintahan Jokowi …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Tenggelamkan Kapal Tiongkok? Siapa Takut! …

Wasiat Kumbakarna | 12 jam lalu

Pak Jokowi Buat Apa Bangun Rel Kereta di …

Gunawan | 13 jam lalu

Gila! Iklan Obat Aborsi Disertai Testimoni …

Riana Dewie | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: