Back to Kompasiana
Artikel

Puasa Dulu Baru Lebaran

Abdul Adzim

Belajar menulis dan berbagi informasi

Filsafat Hari Ketupat (Kupatan)

OPINI | 17 September 2010 | 08:44 Dibaca: 682   Komentar: 0   0

Hari raya idul fitri juga dikenal dengan’’ Hari Rata Ketupat’’. Definisi ini sangat sederhana, sebab ketupat itu banyak ditemukan pada hari raya idul fitri. Bahkan, gambar ketupat ini menjadi symbol hari raya idul fitri. Parsel, kartu lebaran, hingga perusahaan-persuahaan menghias kantornya dengan gambar masjid dan ketupat. Ini lakukan sebagai bentuk penghormatan atas datangnya hari raya idul fitri (ketupat). Akan tetapi, jarang sekali orang mengetahui filsafat ketupat tersebut, karena memang tidak ada literatur yang secara sepesifik membahasa masalah ketupat.

Di berbagai daerah, hari raya ketupat (kupatan), biasanya dilakukan pada hari ke-8 setelah idul fitri. Tradisi ini sangat menarik, walaupun saat ini mulai hilang atau pudar. Akan tetapi, dibeberapada daerah tertentu, seperti Jember, ternyata masih berlaku. Bahkan, tradis (kupatan) ini rutin dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya, setiap rumah menyediakan ketupat, lontong, lepet, serta lengkap dengan opor ayam dan dibawa ke Masjid atau Musolla terdekat. Setelah sang Kyai berdo’a, maka menu yang terdiri dari ketupat, lontong, lepet, dan opor Ayam dimakan bersama-sama. Uniknya, menu itu dibagi secara acak. Begitulah tradisi kupatan yang berlangsung dari tahun-ketahun hingga sekarang.

Setelah ditelusuri, ternyata hari raya ketupat (kupatan) berasal dari bahasa Arab (كافة ) yang artinya (sempurna/ menyeluruh). Istilah ini diambil, karena orang islam yang telah berpuasa sebulan penuh telah merayakanya Idul Fitri. Selang satu hari, sebagian orang islam melanjutkan puasa sunnah Enam Syawwal (Sitta Syawwal). Pada hari ke-delapan, mereka yang berpuasa Enam Syawal berarti telah melaksanakan puasa secara sempurna, yaitu 30 hari puasa ramadhan, dan 6 hari puasa Syawwal. Menurut sebuah keterangan Nabi Saw. Orang yang melaksanakan puasa ramadhan, kemudian dilanjutkan Enam Syawwal, maka seolah-olah orang tersebut telah melaksanakan puasa setahun penuh. Berarti, orang tersebut telah memperoleh pahala puasa 365 hari.

Jadi, sebenarnya filsafat hari raya ketupat (kupatan) itu sebagai bentuk perayaan (kemenangan) bagi mereka yang telah mampu melawan hawa nafsunya pada bulan Ramadhan yang ditambah dengan 6 Syawwal. Sedangkan, mereka yang melaksanakan puasa 6 Syawal, tetapi tidak tertib (urut) tetap diperbolehkan. Sedangkan, mereka yang tidak melaksanakan puasa juga tidak apa-apa. Sebab, hukum puasa 6 Syawwal itu sunnah. Artinya, yang melaksanakan itu memperoleh pahala, sedangkan yang tidak mengikutinya juga tidak apa-apa.

Bagi yang telah melaksanakan puasa 6 Syawwal, semoga mereka benar-benar melaksanakan puasa secara sempurna (كافة ). Perayaan hari raya kupatan itu untuk kalian, sedang yang belum sempurna, semoga bisa melaksanakan, walaupun harus meng-kredit setiap senin dan kamis. Semoga semua memperoleh balasan dari tuhan, sesuai dengan amal perbuatannya. Wallau a’lam

Tags: hikmah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 19 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 21 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 21 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 22 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: